Selasa, 01 Oktober 2013

Tantangan AirNav Indonesia

September ini, tepatnya pada tanggal 13 September 2013 yang lalu, genap satu tahun keberadaan Perum LPPNPI terhitung sejak diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2012 tentang Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia atau yang lebih dikenal dengan nama AirNav Indonesia. Sesuai amanat dalam UU Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, pengelolaan pelayanan navigasi penerbangan harus dipisahkan dari pengelolaan Bandar Udara, sehingga AirNav Indonesia mengemban tugas dan tanggung jawab untuk fokus melaksanakan pelayanan navigasi penerbangan di seluruh wilayah ruang udara Indonesia guna menjamin pemberian pelayanan yang selamat, teratur dan efisien. Tugas dan tanggung jawab AirNav Indonesia tidaklah ringan mengingat Indonesia memiliki tingkat kebutuhan dan permintaan terhadap jasa transportasi udara yang cukup besar. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut saat ini terjadi ekspansi dan pertumbuhan maskapai penerbangan yang sangat pesat. Indikator pertumbuhan tersebut dapat dilihat dari semakin meningkatnya jumlah pergerakan pesawat akibat penambahan jumlah armada, penambahan rute dan jadwal penerbangan secara signifikan. Berdasarkan data, pergerakan lalu lintas pada ruang udara di wilayah timur Indonesia yang dilayani oleh Pusat Pelayanan Lalu Lintas Penerbangan Makassar (MATSC) pada tahun 2012 tumbuh 10.8 % dan keseluruhan traffic nasional yang dilayani sudah mencapai 1 juta traffic/tahun. Bahkan rute penerbangan Jakarta-Surabaya-Denpasar mengalami pertumbuhan sangat tinggi dan dalam tiga tahun terakhir mencapai 12 persen per tahun menjadi rute terpadat kelima dunia. Lihatlah kesibukan AirNav Indonesia dalam melayani kegiatan lebaran tahun 2013 yang lalu. Selama kurun waktu H-7 s.d H+6, dari 25 bandara besar yang dilayani, AirNav Indonesia melayani total 48.893 pergerakan, terdiri atas 21.986 take off dan 21.655 landing. Untuk bandara Soekarno Hatta saja, rata-rata per hari melayani 1.200 pesawat take off dan landing, dimana rata-rata per jam mencapai 70-an pesawat yang take off dan landing. Beberapa bandara lainnya, seperti Juanda – Surabaya, Ngurah Rai – Bali, Sepinggan – Balikpapan, dll. Juga mengalami hal yang sama, over capacity. Dampak dari kondisi over capacity tersebut, tentu saja sangat merepotkan semua pihak terkait. Pilot yang terbang memasuki wilayah Jakarta, harus mengantri panjang dalam waktu yang cukup lama saat akan berangkat, dan harus holding (terbang berputar-putar menunggu giliran untuk mendarat) saat melakukan pendekatan untuk mendarat ke Bandara Soetta. Sudah tentu, kondisi ini akan membakar bahan bakar lebih banyak, yang berarti biaya operasional membengkak. Bagi penumpang, lama perjalanan menjadi tidak menentu, karena antrean dapat memakan waktu dari bilangan puluhan menit bahkan sampai bilangan jam, yang berarti bisnis terganggu. Bagi Crew AirNav Indonesia yang bertugas memberikan layanan, kondisi seperti ini juga sangat memberatkan. Mengatur puluhan pesawat dengan kecepatan tinggi di udara pada waktu bersamaan, yang terus bergerak maju, dan semuanya ingin mendapatkan pioritas, sungguh suatu kondisi yang menuntut konsentrasi tinggi, ketelitian, serta mental yang kuat. Banyak pihak berusaha menekan para Pemandu Lalu Lintas Penerbangan baik melalui telephone maupun berita miring via media massa, seolah para petugas tersebut tak mampu bekerja secara profesional, cepat, cermat dan cekatan! Perlu dipahami, bahwa kelancaran dan efisiensi kegiatan operasi penerbangan tidak hanya dipengaruhi oleh pelayanan navigasi penerbangan, tetapi juga faktor – faktor lain seperti kapasitas runway, konfigurasi taxiway, kapasitas apron juga fasilitas penunjang lainnya. Pesatnya pertumbuhan pergerakan lalu lintas penerbangan pada kenyataannya juga kurang diimbangi oleh ketersediaan infrastruktur bandara sebagai tempat melayani kegiatan lalu lintas pesawat penerbangan dan penumpang. Ketidak-seimbangan kondisi tersebut seringkali mengakibatkan terganggunya operasional penerbangan yang berujung pada terjadinya penundaan penerbangan, pembatalan penerbangan dan penumpukan penumpang di ruang terminal bandara, hingga permasalahan berupa adanya maskapai yang berebut terbang saat “golden time”, baik saat pagi maupun pada sore hari. Dalam berbagai keterbatasan infrastruktur bandara tersebut, AirNav Indonesia berusaha menjaga dan meningkatkan standard keselamatan serta kualitas pelayanan navigasi penerbangan, agar kegiatan operasi penerbangan dapat berlangsung secara efektif dan efisien untuk mencapai hasil yang maksimal dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Yang perlu digaris bawahi, bahwa AirNav Indonesia dalam memberikan pelayanan navigasi penerbangan tetap harus mengacu kepada standard dan prosedur yang berlaku secara nasional, maupun internasional. Tantangan AirNav Indonesia kedepan tentu saja mewujudkan harmonisasi antara efisiensi, efektifitas dan tingkat keselamatan penerbangan yang ditunjukkan dengan terciptanya keadaan dimana prosedur keselamatan dalam memberikan pelayanan navigasi penerbangan serta peningkatan kualitas pelayanan navigasi penerbangan mampu menurunkan rasio serius insiden, mampu mengeliminasi dan memitigasi “hazards” yang dapat membahayakan keselamatan penerbangan, serta mampu meningkatkan kepuasan pengguna jasa. Untuk selanjutnya, langkah – langkah proaktif dan kolaborasi dengan pihak terkait harus dilakukan secara berkesinambungan, dalam rangka mengantisipasi ketidakseimbangan antara jumlah pesawat udara yang beroperasi dengan ketersediaan serta kesiapan infrastruktur bandar udara seiring dengan perkembangan industri penerbangan sipil nasional yang semakin pesat. AirNav Indonesia dan pengelola bandar udara di Indonesia perlu bekerja sama meningkatkan efisiensi kinerja, melaksanakan peningkatan pelayanan dan menyusun metode kerja untuk mengoptimalkan pelayanan navigasi penerbangan dan bandara di Indonesia, agar dapat menjadi model infrastruktur yang berkelanjutan berkelas dunia. [wdtu]

Kamis, 09 Mei 2013

Teman-teman sekalian, Mohon maaf untuk beberapa saat, saya sedikit melupakan halaman blog ini, karena saya harus bersibuk ria melaksanakan tugas-tugas kantor yang rasanya begitu bertumpuk tak selesai-selesai. Bersyukur, pagi ini saya coba paksakan untuk membaca-baca tulisan, dan coba untuk menyapa teman-teman via blog ini. Asyik juga yaa kita dapat berkomunikasi dengan menggunakann blog ini lagi, kita dapat berkesempatan untuk bertukar pikiran, bercanda, mengeluarkan isi hati, dan lain sebagainya. Semoga, saya berkesempatan untuk menyapa teman-teman lagi, meskipun saya tidak dapat menjanjikannya secara rutin. Salam.......

Rabu, 06 Juni 2012

Yuuk Kita Menjadi Diri Kita Sendiri

Banyak orang yang hidup dalam kepura-puraan, menahan perasaan, Tidak berani mengambil keputusan, membiarkan masalah mengambang tanpa solusi, tidak berani menghadapi kenyataan, yang membiarkan hidupnya tersiksa karena semua yang dilakukannya bertentangan dengan nilai-nilai dan pemahaman yang ada di dalam hatinya. Dengan alasan agar tidak membuat konflik dengan rekan sejawat, tidak mengganggu lingkungan, menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan yang ada di sekitar kita, lantas kita tampil bukan sebagai diri sendiri, tampil dalam kepura-puraan, dalam ketidak nyamanan dan stress berkepanjangan. Menyembunyikan perasaan bukanlah cara terbaik untuk menikmati kehidupan yang indah ini. Emosi yang tertahan berkepanjangan, pada akhirnya dapat timbul dalam bentuk penyakit-penyakit fisik seperti : peradangan lambung (mag), sakit tulang belakang, sakit pada punggung, depressi, stress, dll. Mengapa membiarkan diri kita menderita berkepanjangan? Apa yang mesti dilakukan agar kita dapat lepas dari penderitaan yang menyakitkan ini? Berikut adalah hal-hal yang perlu dilakukan, antara lain: 1. Ungkapkan perasaan secara terbuka Memendam perasaan bukanlah cara terbaik untuk memecahkan masalah. Kalaupun tidak mampu atau tidak dimungkinkan mengutarakan masalah secara terbuka, sangat mungkin beban perasaan kita salurkan melalui orang ke tiga yang dapat dipercaya, yang memungkinkan kita mengutarakan perasaan hati, yang memungkinkan kita melakukan diskusi secara komprehensif, dengan demikian perasaan menjadi ringan, beban berkurang dan kita dapat hidup dengan lebih bersemangat. 2. Segera cari solusi Banyak orang yang ketika menghadapi masalah, justru menarik diri, menyalahkan diri sendiri, mencari kambing hitam, dan seterusnya, sehingga alih-alih memecahkan masalah justru membuat masalah menjadi tampak semakin besar, semakin komplek dan semakin tak terpecahkan. Adalah lebih baik segera menyalakan lilin daripada mengutuki kegelapan. Bagaimana memitigasi masalah, bagaimana menyelesaikannya, bagaimana memecahkan masalah agar dapat terselesaikan secara baik dengan hasilyang memuaskan. Berpikir positif ketika menghadapi masalah dengan segera mencari solusi pemecahan, akan membuat hidup kita bahagia dan terbebas dari stress berkepanjangan. 3. Segera ambil keputusan Sering kita dihadapkan pada situasi ragu-ragu tatkala harus menentukan pilihan. Mereka yang selalu ragu-ragu dalam mengambil keputusan, akan selalu dalam situasi bimbang, was-was, cemas sehingga jiwanya tertekan akibat beban yang belum terselesaikan. Bagaimanapun kita harus mengambil keputusan. Menentukan pilihan. Oleh sebab itu, segera putuskan, jangan ragu-ragu dan melangkahlah dengan tegap. Pengetahuan, kesadaran atas resiko, pemahaman atas makna kehidupan akan membantu kita dalam mengambil keputusan secara cepat, tepat dan bijaksana. Mereka yang tak mampu dan tak berani menentukan sikap dan mengambil keputusan, akan selalu merasa tertekan, stress dan serba bimbang tanpamampu bekerja dengan baik. 4. Hidup apa adanya Hidup lah apa adanya, tanpa topeng kepura-puraan. Tampil sebagaimana diri sendiri, tampil apa adanya akan membuat perasaan menjadi santai, tidak terbebani dan pikiran akan menjadi relaks. 5. Mensyukuri keadaan Kunci kebahagiaan hidup adalah mensyukuri apa yang kita miliki. Mensyukuri adalah menerima dengan ikhlas dan bahagia sepenuh hati atas apa yang kita miliki, menjaganya dengan baik dan memanfaatkan secara optimal apa yang kita miliki tanpa ada rasa kecewa sedikitpun dalam hati. Kita sering kecewa dan tidak mensyukuri apa yang telah kita dapat, karena kita membandingkan apa yang kita miliki dengan apa yang kita inginkan atau apa yang telah didapat oleh orang lain. Rasa kecewa akibat ketidak mampuan dalam mensyukuri apa yang telah ada di gengaman kita, sering membawa masalah, mendatangkan kesulitan dan menghancurkan kebahagiaan yang seharusnya dapat kita nikmati dalam kehidupan ini. 6. Bangun rasa percaya Kita dapat hidup dengan nyaman dan bahagia, jika kita mempunyai sahabat-sahabat yang dapat kita gunakan sebagai tempat berbagi perasaan, sebagai teman diskusi dan bertukar pikiran. Kesemua orang itu haruslah orang-orang yang dapat kita percaya. Artinya, kita harus dapat mempercayai orang lain. Orang yang tak mampu mempercayai orang lain, orang yang selalu curiga pada orang lain, sudah tentu tidak akan dapat menjalin komunikasi dengan orang lain secara efektif, tidak akan dapat berbaur secara baik,dan tidak mungkin dapat menjalin hubungan secara terbuka dengan orang lain. Bangunlah rasa percaya, hilangkan kecurigaan, maka kita akan dapat hidup dengan perasaan lebih nyaman, tanpa harus merasa khawatir dan ketakutan tanpa dasar. Marilah kita hidup apa adanya, menjadi diri sendiri, tanpa dihantui rasa khawatir dan ketakutan yang berlebihan. Lakukanlah apa yang memang ingin dilakukan, jangan lakukan hal-hal yang memang tidak ingin kita lakukan. Kalau sesuatu memang harus terjadi, biarlah itu terjadi. Jangan menakutkan hal-hal yang belum tentu terjadi, dan syukuri semua yang ada pada diri kita, maka kita akan hidup bahagia terbebas dari stress yang berkepanjangan.

Minggu, 22 April 2012

Menapaki Jalan Kehidupan

Sahabat, Menapaki jalan kehidupan adalah proses belajar, proses pemahaman akan makna kehidupan dan proses pemantapan keyakinan akan kebesaran Tuhan. Kita dituntut untuk belajar terus menerus, berkesinambungan, karena kehidupan selalu berkembang bergerak dinamis dan selalu menuntut perubahan, agar kita dapat berkembang menyesuaikan perkembangan jaman. Belajar, bukan hanya melalui kegiatan formal di sekolah. Kita juga dituntut untuk belajar dan memahami dengan baik kejadian alam yang ada di sekitar kita. Bukankah dalam kejadian alam ini, juga dari pergantian siang dan malam, lahir hidup dan matinya manusia dan makhluk Tuhan lainnya, terdapat sangat banyak - bahkan tak terhingga banyaknya - ilmu pengetahuan yang dapat digunakan untuk meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan kita. Dengan terbentangnya ilmu pengetahuan yang disediakan itu, kita dituntut untuk memahami perjalanan hidup, karena tanpa pemahaman yang mendalam akan makna kehidupan, seseorang bisa saja menjadi bingung, kehilangan arah dan tak tahu lagi kemana sebenarnya kita hendak menuju. Contoh-contoh kehidupan yang berhasil dan kehidupan yang gagal serta terhinakan, semua terbentang secara terbuka, dapat kita akses secara bebas, dan disediakan secara cuma-cuma tanpa diskriminasi. Permasalahannya, kita sering tidak mau dan tidak bersedia meluangkan waktu untuk mau memahami hakikat kehidupan ini. Kita abai akan pembelajaran yang disediakan dan terbentang di alam. Padahal, dengan pemahaman yang mantap akan makna kehidupan, diharapkan kita mampu mendapatkan pencerahan Ilahi, mampu membaca rahasia alam dan selanjutnya meyakini betapa besar dan tak-terhingga-nya kuasa Tuhan. Pemahaman yang mantap tentang perjalanan hidup akan membawa kita dalam pengakuan atas Kebesaran, kekuasaan, Keagungan, Kasih-Sayang Tuhan. Suatu hal yang mesti kita yakini sepenuhnya baik secara lisan / perkataan, kita yakini melalui perbuatan, juga keyakinan yang mendalam yang langsung masuk dalam relung hati yang paling dalam. Kita sering tidak mau belajar secara detail atas apa yang kita alami dalam kehidupan, justru kita sering mengabaikan pelajaran-pelajaran kehidupan yang kita alami, Kita tidak menapaki perjalanan kehidupan dengan kesadaran penuh, kita hanya focus pada rutinitas kegiatan yang kita kira itulah kehidupan itu sendiri. Dampaknya, kita tidak sempat mempelajarinya secara mendalam, kita tak sempat memahami apa sesungguhnya yang terjadi yang menimpa diri kita, dan karenanya................ Kita tak mendapatkan manfaat apapun dari pengalaman kehidupan yang kita tapaki, sehingga kita tak kunjung arif dan dewasa sebagai manusia. Itulah kemudian yang disindir Tuhan dengan istilahNYA : Manusia yang lalai.

Kamis, 23 Juni 2011

Tuhan Tidak Menganiaya Kita

Semua kita pasti sudah sangat memahami, bahwa hidup kita ini sudah ditetapkan durasinya.
Mereka ada yang berdurasi panjang, ada yang berdurasi pendek, ada yang bahkan sangat pendek, dengan berbagai variasi kondisi yang dihadapinya.
Kita tidak tahu, kapan kita dipanggil untuk menghadap-NYA.
Tidak ada urutan pemanggilan, tidak ada yang diberitahu kapan akan dipanggil, masih berapa lamakah kita diberi kesempatan bertemu terbitnya matahari atau menjadi saksi terbenamnya matahari. Kalkulasinya acak, tak ada jawaban pasti, semua merupakan rahasia illahi!!
Akibat dari kerahasiaan itu, kita menjadi tak tahu apakah perjalanan kita dapat mencapai tujuan yang kita harapkan, atau terpaksa terhenti di tengah jalan.
Kita menjadi tidak tahu, apakah usaha, cita-cita, harapan yang kita bangun dengan susah payah, kadang mengabaikan banyak hal, mendapat hasil yang memuaskan, mampu mencapai titik optimalnya atau bahkan menyentuh garis minimum pun tidak mampu.
Sekedar sharing persepsi dalam menghadapi dinamika kehidupan ini, saya membagi masalah dalam dua kelompok, yaitu masalah yang menjadi urusan Tuhan dan yang kedua adalah masalah yang menjadi urusan saya.
Dalam ajaran agama yang saya pahami sejauh ini, Tuhan punya hak prerogative atas kelahiran, kematian, keberhasilan, jodoh dan rejeki.
Dalam konteks itu, sepertinya kita tak punya hak bahkan bernegosiasi. Terima apa adanya!
Namun demikian, sebagai manusia biasa. Sungguh! menjalankan hidup ini adalah suatu kewajiban.
Maka kemudian saya berpikiran bahwa ada masalah yang menjadi urusan kita sebagai manusia, agar “klop” atau “matching” dengan apa yang menjadi urusan Tuhan.
Masalah yang menjadi urusan kita adalah melayakkan diri di “mata” Tuhan, memantaskan diri, agar Tuhan memberikan karunianya, agar Tuhan memutuskan bahwa memang kita layak untuk sukses, layak berjodoh dengan “Bidadari” yang kita impikan, memang kita layak untuk mati sebagai orang terhormat, Dan sebagainya.
Kita tak boleh pasrah, kita tak boleh berdiam diri, kita tak boleh merusak nilai kehidupan, kita tak boleh membiarkan diri kita teraniaya oleh apapun oleh siapapun, kita tak boleh mendzalimi tetapi kita juga tak boleh berdiam diri jika di dzalimi!!
Ajaran agama saya (Islam) menyebutkan, bahwa Allah SWT tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika kaum itu sendiri tidak merubahnya. Allah tidak akan merubah diri kita, sampai kita sendiri yang merubahnya.
Dengan keyakinan agama seperti itu, kita didorong untuk bekerja keras dengan cerdas Dan cermat sekuat tenaga, tanpa harus berpikir apakah usaha ini berhasil atau mubadzir. Karena keberhasilan merupakan HAK Tuhan, sedang tugas kita adalah memantaskan diri di depan Tuhan, agar Tuhan mengabulkan apa yang kita harapkan.
Tidak semua orang berkesempatan jadi pahlawan, tetapi semua kita diberi kesempatan untuk memantaskan diri sebagai pahlawan.
Semua kita diberi kesempatan yang sama untuk memantaskan diri, diberi kesempatan yang sama untuk menunjukkan bahwa kita orang baik yang layak diberi penghargaan oleh Tuhan, disukseskan hidupnya, dipanjangkan umurnya, disehatkan badannya, dipenuhi keinginannya.
Masalahnya, apakah kita sudah memantaskan diri? Apakah kita sudah melayakkan diri?
Banyak dari kita yang memilih posisi diam, menerima apa adanya, tanpa ada usaha yang memadai agar kehidupan kita bergeser ke arah yang lebih baik.
Kita malas bergeser, karena kita takut Akan resiko yang harus dihadapi.
Padahal, baik kita diam tak bergerak maupun memilih bergeser menuju kebaikan, semuanya mengandung konsekuensi logis, kita harus menanggung akibat atas keputusan yang kita pilih, Dan itu merupakan hukum alam, Sunatullah!!
Apapun kondisi yang kita pilih, kita putuskan untuk kita jalani, selalu mengandung tantangan, ada masalah yang harus kita hadapi Dan selesaikan, yang itu semua sebanding dengan kualitas kehidupan yang in gin kita capai.
Masalah yang kita hadapi bukanlah siksaan Tuhan!
Itu adalah biaya yang harus kita bayar, untuk mendapatkan keinginan yang kita harapkan.
Setiap kita harus “membayar” setiap pilihan yang kita pilih, kita harus mau menanggung resiko atas keputusan yang kita ambil, Dan mesti mau menanggung resiko atas alur yang kita lalui.
Kita perlu keyakinan yang teguh, keyakinan yang konsisten, keyakinan yang kuat, bahwa Tuhan Maha Adil, Tuhan Pasti Mengabulkan Permintaan kita, jika kita memang telah pantas untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.
Tuhan Maha Pengasih Maha Penyayang pada makhlukNYA, maka…….. Permintaan kita akan DIA tunda, jika kita belum pantas menerimanya. Sampai kapan?
Sampai kita pantas untuk menerimanya. Karena dengan kepantasan itu, nilai kemanusiaan kita menjadi meningkat dan anugerah yang diberikan Tuhan tidak berubah menjadi musibah.

Selasa, 21 April 2009

Menyambut Munas ke IV ATC Indonesia

Kata teman-teman yang sempat bercerita ke saya, pada bulan Oktober 2009 yang akan datang, di Bali akan diadakan Munas ke IV IATCA serta pemilihan pengurus untuk periode 2009 - 2012.
Bagi sebuah organisasi dan juga bagi seluruh anggota organisasi, kegiatan Munas tersebut sangat menarik perhatian dan perlu dicermati secara serius, agar keberadaan organisasi profesi ini mampu memberikan nilai-nilai positif bagi peningkatan profesionalisme, memberikan perlindungan dan pengayoman yang selayaknya bagi para anggotanya serta mampu menjadi mitra kerja yang baik bagi stake-holdernya.
Semua anggota seharusnya dapat diminta untuk berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan Munas tersebut, meskipun nantinya yang datang dalam Munas adalah wakil-wakilnya saja, tetapi pemikiran dan aspirasi anggota seharusnya dapat terwadahi dan dibahas dalam Munas secara tuntas.
Kalau memang benar Munas akan dilaksanakan di bulan Oktober, itu berarti tinggal 5 bulan lagi. Normalnya, kegiatan hitung mundur harus sudah dimulai, agar kegiatan ini dapat menjadi kegiatan hajatannya ATC se Indonesia yang khidmat, yang meriah dan mampu memberikan makna dalam memasarkan eksistensi ATC Indonesia di masyarakat pada umumnya.
Inventarisasi masalah-masalah strategis yang dihadapi ATC Indonesia, harusnya sudah terkumpul atau mulai dikumpulkan. Peluang-peluang yang terbentang di hadapan kita, seyogyanya sudah terpetakan atau mulai dipetakan dengan jelas. Dengan demikian, program kerja pengurus periode 2009 - 2012 dapat ditawarkan ke para anggota sejak awal, untuk dikritisi, dibahas dan di diskusikan secara mendalam.
Adalah tugas rekan-rekan yang ingin masuk bursa "ATC 1" untuk mulai menyampaikan program-program real mereka secara terbuka, pemikiran-pemikiran dan langkah-langkah yang akan dilakukan untuk membawa ATC indonesia ke arah dan kondisi yang lebih baik secara terukur, agar pemilihan Petinggi ATC ini dapat berlangsung secara cerdik.
Jika ini dapat dikembangkan dalam budaya organisasi IATCA, saya sangat yakin, pemilihan orang nomor satu di lingkungan ATC Indonesia ini akan berlangsung secara rasional, bukan emosional semata.
Ijtihat, istikharah, mohon petunjuk kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa dalam memilih figur pemimpin yang baik memang perlu, tetapi itu hanya boleh dilakukan setelah kita mempelajari semua seluk beluk calon pemimpin kita secara mendalam dan menimbang-nimbangnya dalam matriks yang obyektif yang sedapat mungkin kuantitatif. Penyerahan mendalam kepada ketentuan Allah hanya boleh dilakukan sebagai penutup / di akhir usaha kita yang telah dilakukan secara total dan habis-habisan.

Rabu, 04 Maret 2009

Perlindungan Hukum Terhadap ATC Indonesia

Pada tanggal 23 Februari 2009, pukul 12.14 UTC (19.14 wib), pesawat Lion Air LNI-972 type MD-90 registrasi pesawat PK-LIO rute penerbangan Medan - Batam melakukan pendaratan di Bandara Hang Nadim Batam, tanpa roda depan, karena roda tidak dapat dikeluarkan baik secara otomatis maupun manual.
Seluruh penumpang 156 orang (148 dewasa dan 8 anak-anak) beserta 2 orang pilot dan 4 cabin crew, selamat. Alhamdulillah.
Masalahnya, tanggal 27 - 2 - 2009, saya dapat info dari Sekjen IATCA, bahwa telah beredar transkrip (istilahnya : rekaman pembicaraan) antara pilot dengan ATC di ruang publik. Saya sangat bersyukur dan menghargai Bung Kristanto selaku Sekjen IATCA yang langsung menghubungi saya. Hal tersebut saya anggap mengindikasikan bahwa pertemanan kami, hubungan kami yang di Subdit Manajemen Lalu Lintas Penerbangan dan rekan-rekan IATCA dapat berjalan sebagaimana diharapkan, sehingga jika terjadi apa saja yang dianggap mengganggu atau membahayakan ATC Indonesia, dapat segera ditangani secara bersama.
Dari sisi MLLP kami dapat jelaskan bahwa :
  1. Team MLLP telah melakukan investigasi terhadap pelayanan ATC Batam dalam kasus pendaratan pesawat Lion Air tersebut, dan tidak menemukan adanya penyimpangan prosedur yang dilakukan ATC. ATC telah melakukan tugas dan fungsinya secara profesional, dengan menjalankan berbagai prosedur yang seharusnya dilakukan oleh ATC.
  2. Kami juga memiliki transkrip komunikasi ATC - pilot sejak pkl. 10.36 UTC s.d pkl. 12.14 UTC saat pesawat LNI 972 mendarat, crash bell berdering dan sirene dibunyikan. Namun, fakta menunjukkan bahwa komuniasi sebagaimana beredar di ruang publik tersebut, ternyata sangat berbeda dan tampak sekali bahwa hal tersebut adalah rekayasa, entah apa maksudnya!
  3. Transkrip komunikasi yang beredar itu, sungguh tidak mencerminkan peran ATC dalam menangani situasi emergency. Dan saya, sebagai team di Subdit MLLP maupun dosen ATC di STPI sangat tidak percaya dengan isi percakapan dalam transkrip yang beredar tersebut, karena menurut pendapat saya, ATC Indonesia paling bodoh pun (seandainya ini ada) tidak akan melakukan komunikasi dalam bentuk seperti itu. Transkrip komunikasi tersebut nampak direkayasa, melalui komunikasi imaginer orang yang tidak memahami komunikasi dan mekanisme pelayanan lalu lintas penerbangan, dan karenanya tidak perlu ditanggapi dengan cara saling curiga dan tuduh menuduh yang pada ujung-ujungnya perpecahan diantara sesama ATC.
Dalam konteks kejadian ini, saya juga prihatin jika ada orang-orang yang kemudian menyebar rumor bahwa ATC Indonesia tidak diperhatikan Pemerintah ; ATC Indonesia tidak mendapatkan perlindungan hukum yang memadai ; ATC Indonesia resah, dll.
Ini adalah rumor yang coba disebar tanpa dasar, tanpa fakta, mengada-ada, dan entah apa maksud di balik pernyataan tersebut.
Bukan hanya karena saya ada di lingkungan pemerintah, tetapi saya sebagai orang yang banyak berkecimpung di lingkungan ATC mencoba untuk berfikir dan bersikap kritis dan obyektif, dan karena sebagai umat beragama oleh Allah swt saya diperintahkan untuk berbuat adil kepada siapa saja, maka saya ingin menyampaikan hal-hal sebagai berikut:
  1. Pemerintah Indonesia bersama DPR - RI telah berhasil membuat UU penerbangan (UU no. 1 tahun 2009 tentang Penerbangan) yang sangat komprehensif. Didalam undang-undang tersebut, banyak butir yang nyata-nyata menetapkan program keselamatan penerbangan, program budaya tindak keselamatan yang mengacu pada standard ICAO.
  2. Dalam UU ini juga memuat peraturan keselamatan penerbangan, sistem pelaporan keselamatan, analisis data dan informasi keselamatanpromosi keselamatan, pengawasan keselamatan, dan lain-lain. Yang dalam banyak hal diarahkan untuk melindungi ATC (jika bicara ATC) dari eksploitasi, pencegahan dari tindak kesalahan atau kelalaian dalam bertugas, pengabaian atas hak-haknya, dll.
  3. Menteri Perhubungan juga telah mengesahkan Peraturan Menhub berupa CASR (untuk ATC ada CASR 69 dan 170 serta 172 dll). Dalam CASR ini juga sangat jelas usaha Pemerintah dalam memberikan perlindungan hukum bagi ATC yang sedang melaksanakan tugas, berupa kepastian-kepastian hukum dalam menjalankan tugas profesinya.
  4. Dirjen Perhubungan Udara juga telah mengeluarkan Peraturan Dirjen Hubud berupa Staff Instruction (SI) dan Advisory Circular (AC) yang disana juga dengan jelas menuntun dan mengarahkan kita (ATC Indonesia) bagaimana agar mereka dalam menjalankan tugas dan fungsinya dapat terhindar dari kesalahan - kesalahan yang merugikan diri ATC tersebut secara pribadi, yang dapat merugikan masyarakat penerbangan, bangsa dan negara RI.
  5. ICAO dan Uni Eropa, secara fakta juga mendukung dan mendorong Pemerintah Indonesia untuk membuat peraturan-peraturan penerbangan yang terkait dengan pelayanan lalu lintas penerbangan - dan ini sudah dilakukan dan terus akan ditingkatkan - dan mereka sangat mendukung usaha-usaha tersebut.
Dari berbagai aturan tersebut diatas, sangat tidak beralasan jika Pemerintah dianggap tidak melindungi ATC Indonesia.
Kepastian hukum, merupakan salah satu bentuk perlindungan hukum bagi masyarakat. Dengan kepastian tersebut, masyarakat menjadi tahu mana atau apa-apa yang menjadi haknya, apa-apa yang harus dihindari, apa-apa yang tidak boleh dilakukan, karena dapat berbahaya dan membahayakan dirinya, orang lain, pengguna jasa penerbangan dll.
Kami di Direktorat Navigasi Penerbangan Ditjen Hubud, khususnya di MLLP (karena focus kita ATC), dalam diskusi dan rapat-rapat bersama ATS Provider ((AP 1 ; AP 2 maupun UPT Ditjen Hubud) selalu memperjuangkan ATC Indonesia agar mereka dapat bekerja sesuai peran dan fungsinya secara profesional.
Akhirnya, saya mengajak rekan-rekan ATC Indonesia untuk :
  1. Bekerja sama menjunjung nilai-nilai profesionalisme ATC, bekerja secara profesional sesuai standard profesi yang telah ditetapkan dalan CASR, SI maupun AC yang ada, sehingga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan (ambillah contoh kasus kejadian Batam tersebut diatas, maupun yang lain-lain lagi) ATC Indonesia tidak menjadi tumpuan kesalahan.
  2. Mengabaikan rumor-rumor atau usaha-usaha yang mencoba memecah belah ATC Indonesia untuk kepentingan-kepentingan yang tidak jelas tujuannya, agar kita dapat secara focus pada tugas-tugas ATC maupun tugas-tugas tambahan lainnya dari pimpinan
  3. Mendukung pemerintah dalam mewujudkan kualitas ATC Indonesia yang profesional melalui program-program yang telah direncanakan
  4. Memberikan masukan pada Pak Dirjen Hubud atau Pak Direktur Navigasi Penerbangan tentang apa saja yang perlu dilakukan agar ATC Indonesia Jaya di Udara, Jaya di Bandara dan Jaya di kancah percaturan dunia. Biarkan ATC Indonesia jadi ATC di Brunei, ATC di Timur Tengah, ATC di mana saja, karena memang mereka profesional, berstandard Internasional namun tetap berkepribadian Indonesia yang tak lekang oleh kerasnya badai global.
Salam dari kami team MLLP
Lantai 23
Medan Merdeka Barat 08